Kereta Arjapala - Bagian 1
Kereta Terakhir ke Arjapala
Hujan turun tipis saat kereta terakhir menuju Kota Arjapala meluncur pelan meninggalkan stasiun Solo Balapan. Di dalam gerbong eksekutif yang hampir kosong itu, hanya ada enam penumpang.
Nadira, seorang penulis lepas yang sedang mencari ketenangan, duduk di kursi nomor 7A. Ia baru saja menerima undangan misterius untuk menghadiri pembacaan wasiat keluarga Wijaksana di sebuah vila tua di perbukitan Arjapala.
Undangan itu singkat.
“Datanglah. Anda dibutuhkan sebagai saksi netral. Semua akan dijelaskan di vila.”
Tanpa tanda tangan.
Tanpa nomor kontak.
Ia hampir tidak datang. Tapi rasa ingin tahunya lebih besar daripada rasa takutnya.
Di seberangnya duduk seorang pria tua berkacamata tipis, membaca koran dengan serius. Di sudut lain ada pasangan suami istri yang terus berbisik pelan. Seorang pria muda berjaket hitam berdiri dekat pintu, sesekali menatap ke luar jendela. Dan terakhir, seorang wanita paruh baya dengan mantel abu-abu yang tampak gelisah.
Kereta berguncang ringan.
Tiba-tiba lampu gerbong berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Lalu mati.
Gerbong menjadi gelap total, hanya diterangi kilat sesekali dari luar jendela.
Beberapa detik sunyi.
Lalu terdengar suara benturan keras.
Dan sebuah teriakan singkat.
Lampu menyala kembali.
Semua mata otomatis mencari sumber suara.
Pria tua berkacamata itu tergeletak di lorong, korannya terjatuh. Di dadanya menancap sebuah pisau kecil berkilau.
Wanita bermantel abu-abu menjerit.
“Ya Tuhan!”
Pasangan suami istri itu berdiri panik. Pria berjaket hitam langsung memeriksa denyut nadi korban.
Ia menggeleng pelan.
“Sudah meninggal.”
Suasana berubah mencekam.
“Tidak mungkin,” bisik Nadira, jantungnya berdegup cepat. “Lampu hanya mati beberapa detik.”
Kondektur berlari masuk setelah mendengar keributan. Ia langsung menghubungi pusat kendali. Kereta tidak bisa berhenti sembarangan. Butuh waktu dua puluh menit sampai stasiun berikutnya.
Dua puluh menit bersama pembunuh.
Kondektur menutup pintu gerbong.
“Tidak ada yang keluar. Sampai polisi datang, semua tetap di sini.”
Semua saling pandang.
Hanya ada enam penumpang.
Dan salah satunya adalah pembunuh.
Pria berjaket hitam berdiri tegak. “Nama saya Arga. Saya kebetulan mantan penyidik. Jika kita menunggu begitu saja, pembunuh bisa menghilangkan sesuatu.”
“Jadi Anda mau menuduh kami?” tanya suami dari pasangan itu tajam.
“Saya tidak menuduh siapa pun,” jawab Arga tenang. “Tapi fakta jelas. Saat lampu mati, kita semua ada di sini. Tidak ada orang lain masuk atau keluar.”
Wanita bermantel abu-abu memeluk tasnya erat. “Saya bahkan tidak berdiri dari kursi.”
Nadira mencoba mengingat. Lampu mati. Ia mendengar langkah cepat. Lalu suara seperti kursi tergeser. Setelah itu benturan.
Ia berdiri perlahan.
“Pak Arga,” katanya, “kalau benar hanya beberapa detik, pembunuh pasti sudah siap sebelumnya. Pisau itu tidak mungkin muncul begitu saja.”
Semua terdiam.
Arga menatapnya dengan tajam, seolah baru menyadari sesuatu.
“Kita juga harus bertanya,” lanjut Nadira, “mengapa korban? Siapa dia?”
Kondektur memeriksa dompet pria tua itu. KTP menunjukkan nama: Rama Wijaksana.
Nadira membeku.
Wijaksana.
Nama yang sama dengan keluarga yang mengundangnya.
Arga memperhatikan perubahan ekspresinya. “Anda kenal korban?”
Nadira ragu sepersekian detik. “Tidak. Tapi… saya diundang ke vila keluarga Wijaksana malam ini.”
Semua wajah langsung mengarah padanya.
Undangan misterius.
Keluarga Wijaksana.
Dan kini salah satu dari mereka tewas.
Kereta mulai melambat mendekati stasiun kecil di tengah hujan.
Di luar, lampu-lampu peron terlihat samar.
Di dalam gerbong, suasana semakin dingin.
Arga menatap seluruh penumpang satu per satu.
“Sepertinya,” katanya pelan, “ini bukan pembunuhan acak.”
Nadira menelan ludah.
Jika Rama Wijaksana mati sebelum pembacaan wasiat, maka siapa yang diuntungkan?
Dan yang lebih mengerikan—
Apakah pembunuh sebenarnya juga diundang ke vila itu?
Kereta berhenti.
Tapi misteri baru saja dimulai.
Comments
Post a Comment